banner 728x250

Kisah Harmoko, Damkar Bandung yang Dibanggakan sebagai Pahlawan oleh Keluarga dan Para Tetangga

banner 120x600

BANDUNG, (PJNN) – Harmoko (32), seorang petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung, telah mengabdikan delapan tahun hidupnya untuk pekerjaan yang penuh risiko ini. Selama itu juga ia mempunyai rasa bangga karena telah menjadi bagian dari para petarung api “Fire Fighter”. Tulus serta ikhlas melayani berbagai aduan bahkan menyelamatkan nyawa seseorang menjadi bahan bakar dirinya agar terus semangat dalam bertugas.

Padahal, pekerjaan berisiko ini tak pernah terbesit di pikirannya saat tahun 2017. Apalagi, yang ia tahu jadi pemadam kebakaran hanyalah soal memadamkan api semata. “Jadi awal mulai saya jadi damkar itu mungkin awalnya saya juga enggak kepikiran bisa jadi damkar sebelumnya. Tapi itu kan kerjanya mungkin memadamkan api saja.”

” Tahu-tahu setelah banyaknya kejadian, bareng-bareng dengan tim, saya baru banyak pengalaman nih,” kata Harmoko saat diwawancarai Minggu (30/11/2025).

Harmoko tak pernah menyangka, menjadi petugas Damkar membuat dirinya harus berkutat dengan banyak aduan evakuasi, penyelamatan bahkan tak jarang berkutat dengan sesuatu yang ekstrem selain kebakaran.

Berbagai hal tersebut menjadi satu hal menyenangkan bagi dirinya sebagai laki-laki yang menyukai tantangan. “Oh, ternyata nyelamatin orang itu bukan hanya tentang kebakaran kalau di pemadam kebakaran, bisa dari evakuasi orang, mungkin minta tolong dengan konteks yang di luar batas kemampuan mereka.”

“Nah, dari situ saya mulai terpacu kayak ‘Oh, seru nih’. Banyak banget tantangan-tantangan yang selama ini saya teh tidak tidak terpikirkan gitu,” ungkapnya. Bukan hanya karena tantangan, tapi kehangatan dan kedekatan bersama masyarakat terkadang jadi salah satu alasan Harmoko menganggap pekerjaan ini menyenangkan.

Doa-doa baik, senyum masyarakat saat berhasil menjalankan tugas juga menjadi motivasi Harmoko. “Terus kenapa saya bangga bisa jadi pemadam kebakaran? Karena konsepnya banyak doa-doa baik yang saya terima ketika saya bekerja.

“Contohnya kita membantu orang atau semoga sehat selalu selalu dilindungi itu membuat saya jadi termotivasi selalu ingin membantu masyarakat,” tutur Harmoko. Kehangatan dan doa-doa baik itu tentu tidak lepas dari suka duka yang telah dirasakan dirinya sebagai fire fighter dalam menjalankan tugas. Tak jarang ia merasakan duka jika ada rekannya yang tidak selamat atau bahkan celaka saat berusaha memadamkan api atau melakukan penyelamatan. Bahkan, ia pernah melihat secara langsung temannya meninggal dalam tugas.

Ya, kalau dukanya mungkin ketika kejadian kebakaran, dukanya ada sampai rekan saya yang meninggal dunia karena konsepnya tertimpa reruntuhan, terus dukanya mungkin ada anggota juga yang konsepnya karena eh dampak kejadian kebakaran seperti sesak napas, ada yang sakit jantung,” ujar dia. “Hal-hal seperti sampai ada yang cacat permanen, dukanya itu sih jadi pemadam kebakaran ternyata banyak juga dampaknya, dampak jeleknya,” tambah Harmoko.

Meski dihadapkan dengan berbagai risiko tinggi dan berbagai kemungkinan yang terjadi, Harmoko merasa sangat senang karena sebagai Damkar ia mendapat gelar pahlawan dari keluarga bahkan para tetangganya. Seringkali ia melihat istrinya juga dipuji oleh tetangga dengan nada “Alhamdulillah sekarang suaminya sudah menjadi damkar”. Itu semua membuat dirinya bangga sekaligus bahagia.

Ibarat satu kali mendayung dua pulau terlampaui. Ia berhasil menjadi pahlawan bagi masyarakat dan pahlawan kebanggaan bagi keluarganya. “Makanya makin terpacu sih masuknya mah kayak saya udah bisa membantu orang ya barangkali saya juga bukan mengharapkan pamrih atau gimana,” beber dia.

Ia menganggap hal-hal baik itu menjadi rezeki dan timbal balik positif bagi keluarganya atas pengabdian dirinya dalam menjalankan tugas dan memberi kemanfaatan kepada yang lain. “Semoga aja keluarga saya juga banyak yang membantu atau banyak yang melindungi gitu aja sih, Kang. Makanya sama. Terus di Damkar karena punya kebanggaan itu sih,” cetus Harmoko.

Meski demikian, Harmoko tidak menampik bahwa semua apresiasi di atas merupakan hasil dari kepercayaan publik yang terus meningkatkan kepada pemadam kebakaran. Ia bercerita bahwa dirinya pernah mendengar istilah UUD (ujung-ujungnya Damkar) secara langsung dari masyarakat.

“Jadi kalau misalnya untuk sekarang mungkin ada peribahasa ya, UUD ujung-ujungnya damkar katanya ya kalau mulai sekarang tuh,” papar dia. Namun, hal itu juga tidak lepas dari sikap tanggap cepat para petugas Damkar di berbagai daerah sehingga atensi dan kepercayaan publik terhadap Damkar juga bisa memberikan pengaruh positif kepada dirinya dan keluarganya.

“Mungkin rasa percaya, rasa responsif dari kitanya itu sangat tinggi karena kan kita berpikirannya enggak terlalu monoton masalah harus A harus B harus C dulu,” beber Harmoko. Menurutnya, menjadi Damkar sudah seharusnya memiliki keberanian dan jiwa yang kuat dalam membantu masyarakat. Apalagi, Damkar sendiri digaji langsung oleh pemerintah. “Kita sudah digaji oleh pemerintah, kita sudah dikasih tanggung jawab bahkan istilahnya kita itu sudah disumpah kalau bekerja itu penuh dengan rasa tanggung jawab, penuh dengan rasa keikhlasan. Kalau kita lebih baik SOP-nya respon cepat dulu,” ujar dia.

“Ketika emang penanganannya sulit atau penanganannya sudah di luar batas kemampuan kita, nah biasanya kita itu koordinasi dengan pihak-pihak yang bisa membantu atau terkait gitu,” pungkas Harmoko.

 

 

(Gilang). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *