banner 728x250

Warga Kebonmanggu Rayakan Milangkala Desa ke-41, Dari Tertinggal Kini Jadi Mandiri

banner 120x600

Sukabumi, (PJN) — Suasana meriah menyelimuti Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Minggu (19/10). Ribuan warga tumpah ruah mengikuti puncak perayaan Milangkala ke-41 tahun Desa Kebonmanggu yang digelar dengan penuh kebersamaan dan semangat gotong royong.

Kepala Desa Kebonmanggu, Rasnita mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas terselenggaranya kegiatan yang menjadi momentum penting dalam perjalanan sejarah desa.

“Alhamdulillah, masyaallah tabarakallah, pada hari ini kita bisa melaksanakan Milangkala ke-41 Desa Kebonmanggu. Sepekan sebelumnya, sudah dilaksanakan berbagai rangkaian kegiatan lomba administrasi desa di setiap RW, Munajat Kubro bersama para alim ulama, dan hari ini ditutup dengan karnaval serta pentas seni antar-RW,” kata Rasnita kepada Jurnalis Radar, pada Minggu (19/10).

Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya ajang seremonial, tetapi menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus menggali potensi budaya lokal yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

“Alhamdulillah, sekitar 50 alim ulama hadir dalam Munajat Kubro. Lalu hari ini, semua RW menampilkan potensi seni masing-masing, seperti jaipongan, pencak silat, hingga seni nyambut pengantin. Ini membuktikan bahwa masyarakat Kebonmanggu memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” ucapnya.

Secara historis, sambung Rasnita, Desa Kebonmanggu memiliki perjalanan panjang. Desa ini merupakan hasil pemekaran dari Desa Sinaresmi pada tahun 1984. Sebelumnya, Desa Sinaresmi sendiri merupakan pemekaran dari Desa Parakanlima, yang kemudian juga dimekarkan menjadi Desa Keretaraharja (wilayah Kecamatan Cikembar) dan Desa Sinaresmi yang awalnya masuk Kecamatan Cisaat.

Namun, seiring perkembangan wilayah dan pembentukan administratif baru, Desa Kebonmanggu dan Desa Sinaresmi resmi masuk ke wilayah Kecamatan Gunungguruh setelah pemekaran pada tahun 1984 silam.

Perjalanan panjang itu kini berbuah manis. Dalam sembilan tahun masa kepemimpinannya, Rasnita berhasil membawa Desa Kebonmanggu naik kelas dari status desa tertinggal, kemudian menjadi desa berkembang, desa maju, dan kini berstatus menjadi desa mandiri.

“Alhamdulillah, selama dua periode saya menjabat, desa ini mengalami peningkatan signifikan. Ini semua berkat kerja keras pemerintah desa, dukungan masyarakat, dan sinergi dengan pemerintah daerah serta pusat,” beber Rasnita.

Tak berhenti di capaian administratif, Desa Kebonmanggu kini tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat basis ekonomi lokal. Pemerintah desa terus menggali potensi melalui pengembangan BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, dan sektor wisata desa.

“Masih banyak potensi yang bisa kita kembangkan. Kami berkomitmen agar desa ini bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi rakyat berbasis kearifan lokal. Ke depan, BUMDes dan koperasi akan menjadi motor penggerak ekonomi warga,” tambahnya.

Selain sektor ekonomi, pemerintah desa juga menaruh perhatian besar pada pelestarian seni budaya tradisional dan pemberdayaan masyarakat. Perayaan Milangkala ke-41 ini menjadi momentum untuk mengingat perjalanan panjang desa, mengevaluasi capaian, serta merumuskan arah pembangunan masa depan yang lebih baik.

Puncak acara Milangkala ditutup dengan hiburan rakyat dan pembagian hadiah yang digelar di RW 1, Kampung Kebonmanggu, Kilometer 9, Jalan Pelabuhan 2. Warga dari 14 RW antusias mengikuti pawai budaya yang menampilkan beragam kostum khas Sunda, kreasi lokal, dan atraksi seni.

“Semangat warga luar biasa. Ini bukti kalau kebersamaan masih menjadi kekuatan utama di desa kami,” tutur Rasnita dengan senyum bangga.

Empat puluh satu tahun perjalanan Desa Kebonmanggu bukan sekadar hitungan waktu, melainkan kisah perjuangan kolektif masyarakat dalam membangun peradaban desa. Dari wilayah yang dulunya tertinggal, kini menjadi desa mandiri yang menatap masa depan dengan optimisme.

“Alhamdulillah, selama saya menjabat sebagai kepala desa, Kebonmanggu tak hanya tumbuh dalam pembangunan fisik, tetapi juga matang dalam spiritualitas, kebudayaan, dan solidaritas sosial,” pungkasnya.

 

(M.ALFI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *