banner 728x250

Trauma Berat Korban Pencabulan di Kadudampit, Luka Psikologis dan Intimidasi. 

banner 120x600

SUKABUMI, (JPNN) – Tragedi pencabulan terhadap bocah perempuan berusia lima tahun di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, menyisakan luka mendalam. Namun, di tengah upaya keluarga memulihkan kondisi psikologis korban, mereka justru menghadapi tekanan sosial baru: dugaan intimidasi dari warga sekitar pasca penangkapan pelaku berinisial SI (19).

Ibu korban, SH (31), mengungkapkan bahwa akses jalan menuju rumahnya tiba-tiba dipagar dan dirusak oleh pihak keluarga pelaku. “Pagi masih bisa lewat, tapi pas pulang, jalan sudah dipagar dua-duanya,” ujar SH, Selasa (4/11/2025).

Akses Rumah Diblokir

Pagar bambu yang dipasang tepat di jalur masuk rumah membuat keluarga korban kesulitan beraktivitas. “Motor sekarang saya parkir di rumah mamah. Sempat dibongkar, tapi dipasang lagi,” tambah SH.

Suaminya menyaksikan langsung pemasangan pagar oleh beberapa warga, namun memilih diam demi menghindari konflik. “Cuma bisa lihat aja, nggak bisa apa-apa,” ucap SH dengan nada getir.

Menurut SH, sikap warga sekitar berubah drastis. Orang-orang yang dulu ramah kini bersikap dingin dan menjaga jarak. “Yang biasanya nyapa sekarang jadi ketus. Kelihatan banget bedanya,” tuturnya.

Situasi ini menambah beban psikologis keluarga. SH mengaku kini selalu was-was, terutama saat malam. “Mau ke kamar mandi aja takut. Dulu biasa aja, sekarang rasanya was-was,” katanya.

Anak korban masih berjuang melawan trauma. Ia kerap menanyakan apakah pelaku sudah ditangkap. “Kalau saya bilang belum, dia diam. Tapi pas saya bilang sudah ditangkap, dia langsung senang,” ungkap SH.

Pemulihan psikologis anak dibantu oleh relawan dan donasi dari pemuda sekitar. Ayah korban tetap bekerja memproduksi makanan ringan, sementara SH fokus merawat anaknya agar trauma tidak semakin parah.

Meski menghadapi tekanan sosial, keluarga korban menegaskan tidak akan mencabut laporan atau berdamai dengan pelaku. “Saya ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Itu masa depan anak saya,” tegas SH.

Bagi SH, keadilan bukan hanya soal hukuman, tapi juga memastikan anaknya bisa tumbuh kembali dengan rasa aman. “Saya ingin hidup tenang dan nyaman. Anak bisa sekolah lagi dan tidak takut,” pungkasnya.

 

 

(Fahri). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *