banner 728x250
Berita  

Kasus TBC di Tasikmalaya Capai 2.600 Orang, 40 Persen Balita

banner 120x600

TASIKMALAYA ,(PJNN)- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya mencatat sedikitnya 2.600 warga positif mengidap tuberkulosis (TBC).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 800 orang atau sekitar 40% di antaranya adalah balita. Hal ini menjadikan kelompok usia dini sebagai fokus utama penanganan penyakit menular tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra Hendriana, menyebut tingginya kasus TBC menunjukkan bahwa penularan di lingkungan keluarga masih cukup besar.

Oleh karena itu, Dinkes menekankan pentingnya deteksi dini, pemeriksaan rutin, dan pengobatan tuntas bagi penderita.

“Data di kita sekitar 2.600 orang positif TBC dan sedang dalam pengobatan. Yang memprihatinkan, sekitar 40 persen di antaranya adalah balita. Ini menjadi fokus kami agar rantai penularannya bisa segera diputus,” ujar Asep saat ditemui di sela kegiatan di area Car Free Day (CFD) Cilembang, Minggu, 9 November 2025.

Asep mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen nasional dalam upaya penanggulangan TBC di delapan provinsi dengan angka kasus tertinggi, termasuk Jawa Barat yang saat ini menempati peringkat kedua se-Indonesia.

“Kegiatan ini secara gebyar dan serempak di seluruh kabupaten/kota. Pesannya jelas, temukan, obati, sampai sembuh (TOSS),” katanya.

Menurut Asep, pesan utama yang digaungkan dalam kampanye itu adalah temukan, obati sampai sembuh (TOSS). Ia menekankan pentingnya upaya deteksi dini dan pengobatan tuntas agar kasus TBC bisa ditekan.

Kasus TBC ini harus kita temukan, harus diskrining, harus deteksi dini. Lalu kalau sudah ketemu, kita obati dengan pengobatan jangka panjang sekitar enam bulan, dan itu harus sampai sembuh pengobatannya,” tuturnya.

Asep menjelaskan, penularan TBC terjadi melalui droplet atau percikan dahak saat penderita batuk dan bersin, serupa dengan penularan Covid-19. Anak-anak sering kali tertular karena kontak erat di dalam rumah dengan anggota keluarga yang membawa kuman TBC.

“Kenapa balita bisa tertular? Karena biasanya dari keluarga yang batuk di dekat anaknya. Jadi penularannya sangat mungkin terjadi di rumah,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa TBC dapat disembuhkan sepenuhnya, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Pengobatan diberikan dalam jangka panjang, sekitar enam bulan, dan harus dijalani sampai tuntas agar tidak kambuh.

mengingatkan bahwa angka kematian akibat TBC akan meningkat bila penderita memiliki penyakit penyerta.

“Risiko meninggal lebih tinggi bila ada komorbid atau infeksi ganda. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk tidak menunda pengobatan,” katanya.

Melalui kampanye TOSS TBC, Dinkes Kota Tasikmalaya berupaya mengedukasi masyarakat secara masif di ruang publik agar lebih sadar terhadap bahaya TBC dan pentingnya pengobatan tuntas.

“Pesan utamanya sederhana: temukan, obati sampai sembuh. Itu komitmen kami agar Tasikmalaya bisa bebas TBC,” katanya.

 

(Nurmala).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *