banner 728x250

Diky Candra dan KDM Jadi Dalang Dadakan di Musrenbang Disporabudpar Kota Tasikmalaya

banner 120x600

TASIKMALAYA,(PJNN) — Musrenbang sektoral Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) di Gedung Creative Center (GCC) Dadaha, Kota Tasikmalaya, Senin (23/2/2026), sempat dihiasi panggung seni dadakan.

Yang bikin kaget, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra bersama Kepala Disporabudpar Deddy Mulyana yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi) cabang Kota Tasikmalaya tampil sebagai “dalang” wayang golek saat pembukaan acara.

Bukan sekadar simbolik, aksi ini menjadi sindiran halus bahwa budaya lokal jangan cuma jadi catatan rapat,tapi harus benar-benar dimainkan.

Diky Candra mengaku aksinya menjadi dalang dilakukan secara mendadak. Bahkan latihan hanya dilakukan semalam sebelumnya.

“Saya mah cuma manajer wungkul biasanya seperti di Asep Show dulu tayang di TPI. Di sini banyak pencipta lagu, seniman, dalang. Tinggal bagaimana kita memberi ruang dan kesempatan,” ujarnya diselingi tawa ditemui usai menjadi dalang.

Menurut Diky, filosofi wayang golek yang ditampilkan berkaitan dengan kondisi hari ini, ketika budaya luar lebih cepat naik panggung sementara budaya lokal sering menunggu giliran.

“Setiap seni budaya yang ada, yuk kita kembangkan sebelum nanti tinggal kenangan. Sudah saatnya kita enggak cuma berwacana tapi beraction,” tegasnya.

Ia pun menyentil kebiasaan forum-forum perencanaan yang kerap berhenti di tataran konsep.

“Biasanya cuma wacana wungkul. Ini (tampil jadi dalang, Red) tiba-tiba malam di WA (Kadisporabudpar), besok tampil. Ya sudah, kita mainkan saja,” katanya dengan nada satir.

Sementara itu, Kadisporabudpar Kota Tasikmalaya, Deddy Mulyana, menjelaskan bahwa penampilan wayang golek bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari tema besar Musrenbang tahun ini,

“Wayang golek itu bagian dari kearifan lokal. Kita ingin mengangkat budaya yang sudah ada. Ternyata di Tasik juga ada pengrajin wayang golek. Ini potensi yang bisa dimatangkan lagi,” tutur Deddy.

Ia menyebutkan, konsep tersebut sejalan dengan upaya menghidupkan Gedung Creative Center agar tidak hanya menjadi gedung seremonial, tetapi ruang aktivitas kreatif setiap hari.

 

(Nurmala).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *