TASIKMALAYA, (PJNN) – Bau kayu hangus masih menggantung di Gang Malika Sari, Empangsari, RT 3 RW 7, Kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.
Di lahan yang kini dipenuhi abu dan seng melengkung seperti kertas terbakar, Yadi Mulyadi berdiri menatap sisa rumahnya.
Rumah yang ditempati keluarganya sejak era 1970-an kini tinggal rangka hitam — kenangan yang berubah jadi arang.
Kebakaran terjadi Sabtu (21/2/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, tepat saat waktu sahur. Api bermula dari kabel tambahan pengisi daya ponsel.
Anak sulung Yadi menjadi saksi pertama melihat kilatan api yang menyambar di sudut rumah.
“Pas mau dibangunin sahur, anak saya bilang ada percikan api dari kabel. Dia langsung panik,” kata Yadi saat ditemui Selasa (24/2/2026).
Refleks, Yadi mematikan meteran listrik. Namun, api tak mau kompromi. Kabel tetap menyala, sementara dinding rumah yang sebagian besar berbahan kayu menjadi bahan bakar berikutnya.
“Listrik sudah dimatikan, tapi kabelnya masih nyala. Saya takut ngerembet ke mana-mana,” ujarnya.
Tak butuh waktu lama, api melalap dua rumah yang berdempetan, termasuk rumah milik Jeri. Sekitar 10 jiwa dari dua keluarga terdampak.
Ruang tidur, dapur, dan tempat anak-anak tumbuh kini berubah menjadi abu. Subuh itu, bukan hanya sahur yang tertunda, tetapi juga masa depan yang mendadak goyah.
Yadi yang sehari-hari bekerja sebagai juru parkir di sebuah kafe kini menumpang di rumah tetangga dan saudara.
Di sela membersihkan puing, ia mengumpulkan abu ke dalam karung, memilah apa pun yang mungkin masih bisa diselamatkan.
“Kami ingin rumah ini berdiri lagi. Tapi caranya bagaimana? Kami juga bingung,” katanya lirih.
Ia mengaku sudah menerima bantuan awal dari BPBD Kota Tasikmalaya dan Dinas Sosial Kota Tasikmalaya.
Untuk perbaikan rumah, Yadi diarahkan mengajukan program rumah tidak layak huni (Rutilahu).
Masalahnya, proses administrasi terasa panjang, sementara atap tak bisa menunggu.
Di antara kerugian materi, ada cerita kecil yang ikut hangus: seragam sekolah anaknya yang masih duduk di bangku SD.
Sejak kebakaran, sang anak belum kembali ke sekolah. Yadi sendiri mengalami luka melepuh dan bengkak akibat paparan panas api.
Harapannya sederhana: ada uluran tangan nyata agar keluarganya bisa kembali memiliki rumah yang aman.
Dengan penghasilan pas-pasan sebagai juru parkir, membangun dua rumah sekaligus jelas bukan perkara ringan.
Di tengah penantian yang sunyi, perhatian datang dari Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya (PTT).
Organisasi sosial yang dipimpin Tjong Djoen Mien atau Ko Acong mendatangi lokasi kebakaran untuk melihat langsung kondisi rumah Yadi.
“Kami prihatin dengan musibah ini. Bantuan kami mungkin tidak mencukupi, tapi ini tanda kepedulian,” tutur Ko Acong.
Ko Candra, anggota PTT, menjelaskan informasi kebakaran diperoleh dari anggota dewan Kepler Sianturi, yang kemudian menghubungi mereka.
Selain itu, Yadi dikenal sebagai juru parkir di tempat usaha salah satu anggota PTT.
“Kami datang untuk melihat langsung dan membantu sebisa mungkin. Kebetulan Pak Yadi bekerja di tempat saya,” tambah Ko Candra.
Bantuan yang diberikan memang belum mampu menjawab kebutuhan besar untuk membangun kembali rumah yang hangus.
Namun, kehadiran mereka setidaknya memberi isyarat bahwa Yadi dan keluarganya tidak sepenuhnya sendirian.
Kini, di atas puing rumahnya, Yadi masih menunggu. Menunggu proses pengajuan bantuan, menunggu kebijakan pemerintah, dan menunggu kemungkinan datangnya pertolongan lain.
Di Kota Tasikmalaya, musibah sering datang lebih cepat daripada bantuan permanen.
Lebih dari sekadar dinding dan atap, Yadi ingin memulihkan ruang aman bagi keluarganya—tempat anaknya bisa kembali belajar, dan subuh tak lagi diwarnai api, melainkan doa. (ayu sabrina barokah)
(Nurmala).
















