banner 728x250

Iqbal Nurhidayat dan Suci Princessa Nagari, Tegenerasi Pemuda Pelestari Budaya di Tasikmalaya

banner 120x600

Tasikmalaya, (PJNN) – Pasanggiri Mojang Jajaka (Moka) Sukapura 2026 kembali menegaskan perannya sebagai lebih dari sekadar ajang pemilihan duta wisata dan budaya.

Kegiatan yang berada di bawah naungan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Tasikmalaya ini menjadi sarana strategis untuk mencetak generasi muda yang peduli terhadap budaya, lingkungan, serta berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Puncak Grand Final Pasanggiri Mojang Jajaka Sukapura 2026 pada Minggu (31/5/2026) di Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya berlangsung meriah dengan menghadirkan para finalis terbaik dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya.

Pada malam puncak tersebut, Iqbal Nurhidayat, terpilih sebagai Jajaka Pinilih Kabupaten Tasikmalaya 2026, sementara gelar Mojang Pinilih Sukapura 2026 diraih oleh Suci Princessa Nagari, pasangan terbaik yang dinilai memiliki kapasitas, wawasan, dan kepedulian sosial tinggi.

Menurut Iqbal Nurhidayat, Pasanggiri Mojang Jajaka bukan hanya agenda seremonial tahunan, melainkan bagian dari upaya terstruktur dalam membentuk karakter pemuda yang mampu memahami realitas sosial sekaligus berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Pasanggiri Mojang Jajaka bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan sebagai upaya terstruktur untuk menciptakan generasi pemuda yang melek terhadap realitas dan mampu mengatasi berbagai persoalan, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan,” ujar Iqbal,Rabu (3/6/2026).

Ia menegaskan, di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, generasi muda harus tetap memiliki idealisme yang kuat serta mampu menjadi agen perubahan bagi daerahnya.

Menurutnya, pemuda saat ini merupakan calon pemimpin masa depan yang akan menentukan arah pembangunan daerah maupun bangsa.

“Di tengah arus modernisasi, pemuda harus tetap menjadi sosok yang kukuh mempertahankan idealismenya. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan,” katanya.

Benteng Pelestarian Budaya Sunda

Iqbal juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda saat ini, yakni semakin kuatnya pengaruh budaya luar yang perlahan menggeser nilai-nilai budaya lokal.

Ia mengutip paribasa Sunda “Jati kasilih ku junti” yang menggambarkan kondisi ketika budaya asli mulai terpinggirkan oleh budaya asing.

Karena itu, keberadaan Paguyuban Mojang Jajaka Sukapura dinilai menjadi salah satu langkah nyata dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal melalui regenerasi pemuda yang memahami identitas dan kearifan daerahnya.

“Budaya asli pribumi hari ini mulai terpolarisasi oleh budaya asing. Dalam istilah paribasa Sunda, Jati kasilih ku junti. Melalui Pasanggiri Mojang Jajaka yang dinaungi Disparpora Kabupaten Tasikmalaya, kami berupaya menjaga keutuhan regenerasi pemuda yang memiliki kecintaan terhadap budaya daerah,” ungkapnya.

Kemenangan Bukan Sekadar Gelar

Bagi Iqbal, terpilih sebagai Jajaka Pinilih Kabupaten Tasikmalaya 2026 bukanlah akhir dari perjalanan. Justru gelar tersebut menjadi titik awal untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat.

Ia menegaskan, esensi kemenangan sejati bukanlah saat seseorang berhasil meraih gelar, melainkan ketika kehadirannya mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

“Malam puncak Grand Final ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan titik awal perjuangan. Kemenangan sejati bukan sekadar menjadi Pinilih, tetapi bagaimana kehadiran kita dapat dirasakan dan memberikan kebermanfaatan bagi banyak orang,” tegasnya.

Melalui Pasanggiri Mojang Jajaka Sukapura 2026, diharapkan lahir generasi muda Kabupaten Tasikmalaya yang tidak hanya memiliki kemampuan komunikasi dan wawasan budaya, tetapi juga mampu menjadi duta pembangunan, pelestari budaya Sunda, serta penggerak perubahan positif di tengah masyarakat.

 

 

(Nurmala).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *